Lebaran, Penjualan Rumah Menurun Di Surabaya

SURABAYA- Penjualan properti residensial atau rumah hunian di Surabaya melonjak hingga 10 % selama semester satu tahun 2010. Peningkatan penjualan properti residensial itu sejalan dengan tingginya permintaan rumah khususnya tipe menengah.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris REI Jatim, Noer Wakhid, Senin (23/8). “Untuk semester 1 tahun ini menunjukkan peningkatan 10 % dibanding pada semester yang sama tahun lalu. Peningkatan itu di dominasi oleh rumah tipe menengah ke atas,” ucapnya ketika dihubungi Surabaya Post melalui telepon, Senin (23/8)
Dikatakan Nur Wakhid, pada semester satu tahun 2009 rumah tipe menengah yang terjual 400 unit. Sedangkan pada semester satu tahun ini meningkat menjadi 600 unit.
Kondisi penawaran rumah maupun permintaan rumah yang relatif stabil ini diperkirakan masih akan berlanjut pada semester dua tahun 2010. “Peningkatannya sangat signifikan dan diprediksi akan berlanjut sampai akhir tahun. Kita menargetkan bisa mencapai 40 % peningkatannya,” ujar Wachid
Walaupun begitu, untuk momen menjelang Lebaran ini, menurut Wachid penjualan rumah sedikit mengalami penurunan, karena masyarakat lebih terkonsentrasi untuk mempersiapkan kebutuhan lebaran. Tapi, kondisi tersebut hanya berjalan sebentar dan akan kembali normal yang akhirnya menunjukkan peningkatan. “Mereka bukan tidak mau membeli, tapi hanya menunda,” katanya.
Menurut Noer Wakhid, tingginya permintaan itu diakibatkan karena kondisi bunga kredit yang stabil akibat perekonomian Indonesia yang semakin membaik. Kondisi bunga kredit yang stabil membuat masyarakat antusias membeli rumah karena ada kepastian.
“Karena kondisi bunga kredit yang stabil, masyarakat makin percaya karena ada kepastian,” tambahnya.
Untuk pendanaannya, sebagian besar konsumen (82 %) masih memilih Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial. Sebagian besar menggunakan kredit jangka panjang antara 5 tahun-15 tahun.
Dikatakan Noer Wakhid, tingkat bunga KPR yang diberikan perbankan untuk pembelian rumah umumnya berkisar antara 10 % -12 %. Di samping melalui fasilitas KPR, menurut Wachid sebanyak 15,3% konsumen memilih menggunakan fasilitas pembayaran secara tunai bertahap, dan sebagian kecil (3,7 %) dilakukan dalam bentuk tunai (cash keras).
“Karena bunga stabil, kebanyakan mereka memanfaatkan fasilitas KPR dari Bank. Sebanyak 82 % untuk KPR, 15,3 % tunai bertahap, dan sisanya dalam bentuk tunai langsung,” ungkapnya.
Untuk pembelian rumah hunian tipe menengah didominasi oleh masyarakat perkotaan yang berada di pinggiran kota Surabaya. Dari 600 unit yang terjual, 420 unit dibeli oleh mereka yang tinggal di pinggiran kota Surabaya. “Kebanyakan sih warga Surabaya yang hidup di pinggiran. Untuk warga pusat kota, kecenderungannya sekarang lebih ke apartemen,” ujarnya.
Ditambahkan Noer Wakhid, untuk pengembang, umumnya masih mengutamakan sumber pendanaan internal terutama untuk penyediaan lahan. Sedangkan untuk pembangunan rumah, sebagian masih menggunakan dana eksternal seperti dari bank. “Untuk penyediaan lahan (tanah) 100 % merupakan sumber dana internal. Sedangkan untuk pembangunan rumahnya sekitar 70 % adalah sumber dana internal dan 30 % dari sumbr dana yang berasal dari Bank. Karena berkaitan dengan KPR nantinya,” ujarnya. m11

Sumber http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=875668539d0d91f5501966dfe31fa372&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: