Pertumbuhan Pasar Capai 5 Persen

Pertumbuhan pasar properti di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 2011 diperkirakan sebesar 4 hingga 5 persen. Ini berarti pertumbuhan pada 2011 ini lebih rendah dibanding 2010 yang mencapai 8 persen.

Penurunan pasar properti pada 2011 ini dilihat dari segi pasokan. Pada umumnya, pasokan yang disediakan oleh perusahaan pengembang properti sejak satu hingga dua tahun sebelumnya. Penurunan pasokan properti salah satunya sebagai imbas dari krisis keuangan global pada 2008 dan 2009.

“Pada kurun waktu ini, orang cenderung menunggu, sementara pengembang tidak berani merencanakan apa-apa. Jadi, ketika krisis selesai, selama 2009, pengembang tidak melakukan apa-apa. Pada 2010, proyek masih belum terwujud. Akibat pada 2009 tidak ada rencana, imbasnya dua tahun kemudian, yakni pada 2011.

Pasokan properti mengalami penurunan. Namun, pada 2012, saya lihat pasar properti akan naik lagi,” kata Head of Strategy Advisory Procon Utami Prastiana di Jakarta, Selasa (18/1).

Menurut dia, jika dilihat dari masing-masing subsektor, baik pasar perkantoran, ritel, kondominium, maupun apartemen sewa, akan mengalami kenaikan. Yang signifikan tumbuh sub-sektor perkantoran dan ritel.

Sementara itu, Technical Advisor Commercial Leasing Procon Luke S Rowe mengatakan, pasokan ruang perkantoran di area bisnis sepanjang 2011-2012 diperkirakan akan tumbuh sekitar 4,4 persen per tahun dengan penambahan sekitar 380. 000 m2. Sekitar 73 persen akan berasal dari gedung kelas A, sedangkan permintaan diperkirakan akan tumbuh sekitar 5 persen per tahun, dan permintaan dari penyewa skala besar dari sektor finansial akan tetap ada.

Sementara itu, pasokan di luar area bisnis diperkirakan secara rata-rata akan tumbuh 3,6 persen per tahun dengan penambahan ruang kantor sekitar 175.000 m2. Pasar perkantoran akan lebih aktif dengan kontribusi 63 persen dari pasokan yang ada dan permintaannya akan tumbuh 4 persen per tahun.

Peningkatan permintaan ruang perkantoran di Jakarta diprediksi akan meningkat 87-89 persen, sehingga rata-rata harga sewa juga akan mengalami kenaikan sekitar 5,5-7,0 persen, terutama di gedung yang beroperasi dan dengan tingkat hunian yang relatif tinggi.

Di sisi lain, Head of Retail Leasing Procon Wendy Haryanto mengatakan, pasokan properti untuk ritel di Jakarta pada 2010 tumbuh 5,7 persen menjadi 3,63 juta m2 dengan pasokan baru seluas 194.000 m2. Dari segi permintaan juga tumbuh sebesar 10,9 persen. Pada akhir 2010, tingkat hunian rata-rata ritel meningkat menjadi 78 persen. Secara umum, harga sewa mengalami peningkatan sekitar 0,5 persen untuk Jakarta dan 2,6 persen untuk di Bodetabek.

 

Pengembangan

Di lain pihak, perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk menggandeng dua perusahaan konsultan untuk melakukan pengembangan proyek kawasan perumahan terintegrasi, modern, dan strategis, salah satunya di Graha Natura Surabaya, Jawa Timur, seluas 100 hektare.

“PT Indonesia Architechs akan membuat rencana induk dan PT Meinhard Indonesia untuk desain infrastruktur teknis Graha Natura,” kata Wakil Direktur dan Chief Operating Officer Intiland Sinarto Dharmawan usai menandatangani nota kerja sama Intiland dengan dua perusahaan konsultan tersebut.

Menurut dia, kedua perusahaan itu akan membantu Intiland dalam mewujudkan konsep Graha Natura di Surabaya Barat, Jawa Timur, dalam lima tahun ke depan. Tidak hanya perumahan modern dan strategis, tapi juga mengedepankan konsep tata lingkungan yang asri dan mengutamakan aspek kesehatan.

“Tidak hanya green (hijau), tapi aspek kesehatannya sangat dikedepankan. Limbah rumah tangga dan pembuangan dari WC akan dikelola secara terpusat untuk diolah kembali. Jadi, setiap rumah tak ada septic tank, karena dalam jangka panjang juga akan mencemari lingkungan,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Sinarto, pasokan air bersih kepada seluruh penghuni Graha Natura akan diproses dengan sterilisasi terlebih dulu. “Kami juga menyediakan fasilitas serat optik untuk kepentingan hiburan, keamanan, dan telekomunikasi penghuni,” ujarnya.

Peluncuran Graha Natura akan dilakukan pada awal 2011, khususnya pada pembangunan tahap pertama seluas 32 hektare untuk 492 kavling dan terbagi dalam empat klaster. Harga rumah dimulai dari Rp 1,5 miliar ke atas, sehingga sasaran konsumennya memang untuk kelas menengah ke atas.

Sinarto menjelaskan, Intiland bertekad mengembangkan Graha Natura dengan laus lahan sekitar 10-15 hektare per tahun dan investasi untuk infrastruktur diperkirakan mencapai Rp 7 miliar. “Untuk 15 hektare tahap pertama sudah selesai. Diperkirakan investasi yang dikeluarkan mencapai Rp 100 miliar lebih,” ujarnya.

Sinarto juga menekankan, sebagai konsekuensi dari komitmen menjaga lingkungan dan kelestarian alam, Graha Natura mensyaratkan setiap rumah hanya diperbolehkan merenovasi atau dikembangkan maskimal 50 persen dari total luas lahan yang ada.

“Ini semua untuk mempertahankan konsep hunian yang asri dengan ciri masih tersedianya lahan untuk kawasan resapan air,” katanya.

[Sumber:http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=270799]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: